Panceg Rupa, Wujud Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Hajat Lembur: Merawat Warisan Budaya dan Meneguhkan Rasa Syukur

0
WhatsApp Image 2026-08-02 at 16.02.55

Media Nusantara | Kabupaten Bandung – Upaya pelestarian seni dan budaya lokal kembali diwujudkan melalui kegiatan Panceg Rupa: Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Hajat Lembur yang digelar oleh Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra berkolaborasi dengan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Fakultas Pendidikan di Lembur Awi, Kampung Wangun, Desa Jatisari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, pada Minggu (2/8), mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat jalinan silaturahmi masyarakat sekaligus meneguhkan komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan seni budaya Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari sekadar perayaan budaya, Hajat Lembur merupakan manifestasi rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat berupa kesehatan, keselamatan, rezeki, serta keharmonisan kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.

Sejak pagi, suasana Kampung Wangun dipenuhi antusiasme warga yang berbondong-bondong mengikuti rangkaian kegiatan. Kebersamaan yang terbangun mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang masih terpelihara kuat di tengah masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolsek Cangkuang Didi Dwipurnomo, S.AP., C.PHR, Kasi Pemerintahan Desa Jatisari Rahmat Hidayat, perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung Hj. Dini Hayati, Pimpinan Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra Ade Cucu, serta perwakilan Mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan Rizki Ahmad Syafei, bersama tokoh masyarakat, tokoh budaya, dan warga setempat.

Dalam sambutannya, Ade Cucu selaku Pimpinan Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra menegaskan bahwa Panceg Rupa merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat melalui pelestarian budaya yang berlandaskan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Menurutnya, budaya bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan identitas yang membentuk karakter suatu masyarakat. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan budaya menjadi tanggung jawab bersama agar nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

“Melalui Hajat Lembur, kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat persaudaraan, menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya daerah, sekaligus menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta,” ungkapnya.

Sementara itu, perwakilan Mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan, Rizki Ahmad Syafei, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.

Ia menilai, sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.

“Pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun para pelaku seni, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda dan dunia akademik agar nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Apresiasi juga disampaikan Kapolsek Cangkuang Didi Dwipurnomo, S.AP., C.PHR atas terselenggaranya kegiatan yang berlangsung aman, tertib, dan penuh nuansa kekeluargaan.

Menurutnya, kegiatan budaya seperti Hajat Lembur memiliki nilai strategis dalam mempererat hubungan antara masyarakat, pemerintah, tokoh adat, serta aparat keamanan sehingga mampu memperkuat persatuan dan menciptakan situasi yang kondusif.

“Tradisi seperti ini bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mempererat persaudaraan serta membangun kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Kasi Pemerintahan Desa Jatisari, Rahmat Hidayat, yang mengapresiasi seluruh panitia dan masyarakat atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Ia menilai Hajat Lembur memiliki filosofi yang sangat mendalam karena mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala karunia yang diberikan.

Rahmat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga generasi muda semakin mengenal, mencintai, dan memiliki kebanggaan terhadap budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

Di sisi lain, Hj. Dini Hayati dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan memerlukan dukungan aktif komunitas budaya, lembaga pendidikan, pemerintah desa, serta masyarakat luas agar warisan budaya tetap lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sepanjang kegiatan berlangsung, masyarakat mengikuti berbagai rangkaian acara dengan penuh semangat, mulai dari prosesi adat hingga kegiatan kebersamaan yang mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan masyarakat Sunda.

Momentum tersebut juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Pencipta sebagai fondasi kehidupan yang harmonis.

Melalui penyelenggaraan Panceg Rupa: Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Hajat Lembur, masyarakat tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi agenda budaya tahunan yang terus berkembang sebagai ruang edukasi, pelestarian seni, sekaligus media memperkokoh solidaritas sosial masyarakat.

Kolaborasi antara Padepokan Panawung Jaya Guyur Putra, Mahasiswa UPI Fakultas Pendidikan, pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh budaya, dan masyarakat menjadi bukti bahwa pelestarian budaya akan semakin kuat ketika dibangun melalui semangat kebersamaan dan tanggung jawab kolektif.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, seraya memohon agar masyarakat Desa Jatisari senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan, kemakmuran, serta kekuatan untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai seni budaya lokal kepada generasi penerus.


Penulis: Tim Redaksi Media Nusantara
Editor: Redaksi Nasional Media Nusantara

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *