Karhutla Gunung Bromo Meluas, Petugas Perkuat Operasi Pemadaman

0
53a697e694-1418046-featured

MEDIA NUSANTARA | JAWA TIMUR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih menjadi perhatian serius. Perkembangan kebakaran dilaporkan meluas hingga mengarah ke kawasan Blok Jantur yang berada di jalur menuju destinasi wisata B-29, Kabupaten Lumajang.

Kondisi tersebut mendorong petugas gabungan untuk memperkuat operasi pemadaman sekaligus melakukan langkah antisipasi agar kobaran api tidak bergerak semakin jauh. Sejumlah metode digunakan, mulai dari pemadaman manual, pembuatan sekat bakar, penyiraman menggunakan kendaraan tangki, pengerahan drone water spray hingga dukungan helikopter water bombing.

Informasi mengenai perkembangan karhutla ini dihimpun Media Nusantara dari sejumlah sumber media lainnya, termasuk laporan ANTARA Jawa Timur dan media nasional yang memantau proses penanganan kebakaran di lapangan.

Perkembangan terbaru menunjukkan adanya titik api yang telah memasuki kawasan Blok Jantur. Lokasi tersebut berada di wilayah perbatasan yang memiliki jalur menuju kawasan wisata B-29 di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api. Satu regu Tim Reaksi Cepat (TRC) juga telah diterjunkan untuk melakukan pemantauan sekaligus mendukung upaya pengendalian kebakaran.

Meski api bergerak di kawasan perbatasan, hingga laporan terakhir belum terdapat informasi bahwa kebakaran telah mengancam langsung permukiman warga.

Jarak titik api dengan wilayah Lumajang diperkirakan sekitar empat kilometer. Kondisi ini tetap menjadi perhatian karena perubahan arah angin dapat memengaruhi pergerakan api di kawasan pegunungan.

Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, petugas melakukan pembuatan sekat bakar di sejumlah lokasi strategis.

Sekat bakar menjadi salah satu langkah mitigasi untuk memperlambat atau menghentikan penjalaran api sehingga tidak mudah berpindah menuju vegetasi yang belum terbakar.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah bertambahnya perkiraan luasan kawasan yang terdampak kebakaran.

Dalam laporan sebelumnya, area yang terbakar diperkirakan berada pada kisaran puluhan hektare. Sementara perkembangan berikutnya menunjukkan estimasi luasan mencapai sekitar 125 hektare.

Namun, angka tersebut belum dapat dianggap sebagai data final karena proses pemetaan dan verifikasi di lapangan masih berlangsung.

Perbedaan angka luasan dalam sejumlah laporan dapat terjadi karena proses pendataan dilakukan secara bertahap, sementara petugas juga masih melakukan pemantauan terhadap titik api yang berada di kawasan dengan medan sulit.

Karena itu, Media Nusantara menempatkan angka luasan tersebut sebagai perkiraan sementara berdasarkan laporan yang tersedia.

Vegetasi yang terdampak antara lain semak belukar dan sejumlah jenis tanaman khas kawasan pegunungan. Kondisi vegetasi yang relatif kering dapat membuat api lebih mudah menjalar apabila didukung oleh tiupan angin.

Operasi pemadaman karhutla di kawasan Bromo dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan kondisi medan.

Pada lokasi yang masih dapat dijangkau personel, petugas melakukan pemadaman secara langsung. Teknik manual seperti gepyok digunakan untuk menangani titik api tertentu, terutama pada bagian yang memungkinkan dijangkau petugas.

Sementara di area yang berada pada bagian bawah tebing, kendaraan tangki digunakan untuk menyuplai dan menyemprotkan air.

Tantangan terbesar muncul pada titik api yang berada di lereng terjal dan sulit dijangkau melalui jalur darat.

Untuk menjangkau lokasi tersebut, tim memanfaatkan drone water spray yang mampu membawa air untuk kemudian disemprotkan ke area yang menjadi sasaran pemadaman.

Pemanfaatan teknologi ini menjadi bagian dari strategi untuk memperluas jangkauan operasi tanpa harus memaksakan personel masuk ke medan yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Selain menggunakan teknologi drone, operasi pemadaman juga diperkuat dengan dukungan udara.

Helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu melakukan penyiraman dari udara terhadap titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat.

Pasokan air diambil dari sumber air yang memungkinkan untuk mendukung operasi tersebut, kemudian dibawa menuju lokasi kebakaran untuk dijatuhkan tepat di sekitar titik api.

Strategi pemadaman udara menjadi penting dalam situasi seperti karhutla Bromo karena karakteristik kawasan pegunungan membuat sebagian lokasi tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam maupun personel secara cepat.

Dengan kombinasi operasi darat dan udara, petugas berupaya mempercepat proses pemadaman sekaligus mencegah api berkembang menjadi lebih luas.

Kondisi geografis kawasan Bromo menjadi salah satu faktor yang membuat operasi pemadaman tidak mudah.

Lereng yang terjal, akses terbatas, vegetasi serta kondisi angin menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan oleh petugas.

Api yang telah berhasil dipadamkan di satu titik juga masih harus dipantau untuk memastikan tidak terdapat bara yang dapat kembali memicu kebakaran.

Karena itu, operasi tidak berhenti ketika kobaran api terlihat mengecil. Petugas tetap melakukan penyisiran, pendinginan dan pemantauan terhadap kawasan yang sebelumnya terbakar.

Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah munculnya kembali titik api baru.

Penanganan kebakaran dilakukan melalui koordinasi lintas instansi.

Unsur yang terlibat antara lain BPBD, Balai Besar TNBTS, Polisi Kehutanan, TNI, Polri, relawan serta Masyarakat Peduli Api.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut diperlukan mengingat wilayah kebakaran berada di kawasan konservasi yang memiliki karakter medan cukup kompleks dan bersinggungan dengan beberapa wilayah administratif.

Koordinasi juga diperlukan untuk memastikan proses pemadaman berjalan secara terarah, terutama dalam menentukan lokasi prioritas dan jalur evakuasi maupun akses bagi personel.

Di wilayah yang berpotensi terdampak, petugas juga melakukan langkah antisipasi untuk mencegah api bergerak menuju lahan masyarakat dan permukiman.

Karhutla juga berdampak terhadap aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo.

Sebagian akses wisata sebelumnya ditutup sementara sebagai langkah keselamatan. Kebijakan tersebut juga memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan operasi pemadaman tanpa terganggu aktivitas wisatawan.

Penutupan sementara menjadi bagian dari upaya mitigasi mengingat kondisi kebakaran dapat berubah sewaktu-waktu.

Masyarakat maupun wisatawan diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari pengelola kawasan dan pemerintah daerah terkait status akses wisata.

Di tengah proses pemadaman, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan diminta meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memunculkan sumber api, khususnya di kawasan yang vegetasinya kering.

Pencegahan menjadi faktor penting dalam pengendalian karhutla. Api yang muncul di kawasan hutan dengan kondisi kering dapat berkembang dengan cepat apabila dipengaruhi angin dan kondisi medan.

Pemerintah daerah bersama petugas lapangan terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kebakaran.

Karhutla di kawasan Gunung Bromo hingga kini masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Pengerahan personel, kendaraan pemadam, sekat bakar, drone water spray dan helikopter water bombing memperlihatkan bahwa upaya pengendalian dilakukan melalui berbagai pendekatan.

Namun, kondisi lapangan yang dinamis membuat proses pemadaman membutuhkan waktu. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan kobaran api, tetapi juga memastikan titik-titik yang telah ditangani tidak kembali menyala.

Media Nusantara memandang keselamatan personel, masyarakat dan keberlangsungan kawasan konservasi harus menjadi prioritas dalam setiap tahapan penanganan.

Karhutla bukan hanya persoalan api yang harus segera dipadamkan, tetapi juga menyangkut perlindungan ekosistem, keselamatan masyarakat serta keberlanjutan kawasan wisata dan konservasi.

Selama operasi masih berlangsung, perkembangan luas area terdampak, lokasi titik api dan status akses wisata dapat mengalami perubahan sesuai hasil pemantauan terbaru di lapangan.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *