Tantan Sulthon Bukhawan Terpilih sebagai Ketua PWI Jawa Barat, AMKI Kabupaten Bandung: Momentum Memperkuat Pers yang Profesional dan Independen
BANDUNG, MEDIA NUSANTARA – Tantan Sulthon Bukhawan terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026–2031. Hasil tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi kewartawanan di Jawa Barat sekaligus membuka harapan baru bagi penguatan profesionalisme, kompetensi, soliditas dan independensi insan pers.
Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Jawa Barat menjadi forum yang menentukan arah kepemimpinan organisasi untuk lima tahun mendatang. Dalam proses pemilihan tersebut, Tantan Sulthon Bukhawan memperoleh dukungan mayoritas suara peserta dan dipercaya untuk memimpin PWI Jawa Barat.
Sejumlah pemberitaan media menyebutkan Tantan memperoleh 444 suara dari 699 suara yang masuk, sementara kandidat lainnya, Hardiyansyah, mendapatkan 247 suara. Hasil tersebut menempatkan Tantan sebagai peraih suara terbanyak dalam pemilihan Ketua PWI Jawa Barat.
Terpilihnya Tantan bukan merupakan hal yang sepenuhnya baru dalam struktur PWI Jawa Barat. Sebelumnya, ia telah menjalankan sejumlah peran dalam organisasi tersebut, termasuk sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal dalam menjalankan kepemimpinan PWI Jawa Barat ke depan, terutama menghadapi perkembangan industri media yang semakin dinamis di tengah transformasi digital.
Usai terpilih, Tantan Sulthon Bukhawan menyampaikan harapan agar insan pers di Jawa Barat dapat semakin solid, profesional dan kompeten dalam menjalankan tugas jurnalistik.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi tidak boleh menghilangkan prinsip dasar jurnalistik. Kecepatan dalam menyampaikan informasi harus tetap diikuti proses verifikasi, konfirmasi, akurasi serta kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pers saat ini. Arus informasi melalui media sosial berlangsung sangat cepat dan tidak seluruh informasi yang beredar telah melalui proses jurnalistik.
Sebelumnya, saat masih menjabat di jajaran PWI Jawa Barat, Tantan juga menekankan pentingnya inovasi media massa dalam menghadapi perkembangan era digital. Ia menyebut digitalisasi sebagai peluang bagi media untuk mengembangkan produk jurnalistik tanpa meninggalkan fungsi pers sebagai kontrol sosial.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemberitaan ANTARA yang mencatat Tantan pernah menyampaikan bahwa media massa perlu melakukan inovasi di era digital, namun tetap menjalankan fungsi kontrol serta memproduksi informasi berdasarkan kaidah jurnalistik. (ANTARA News Jawa Barat)
Karena itu, kepemimpinan baru PWI Jawa Barat diharapkan tidak hanya berorientasi pada konsolidasi organisasi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia pers.
Peningkatan kompetensi wartawan menjadi salah satu isu penting yang selama ini mendapat perhatian Tantan Sulthon Bukhawan.
Dalam sejumlah program PWI Jawa Barat sebelumnya, peningkatan kapasitas wartawan melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi bagian dari agenda organisasi.
Penguatan kompetensi dinilai penting karena wartawan memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan informasi yang diterima masyarakat benar, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks perkembangan media digital, wartawan tidak cukup hanya mampu menulis dengan cepat. Seorang jurnalis dituntut memahami proses verifikasi, mampu melakukan konfirmasi kepada berbagai pihak, menjaga keberimbangan pemberitaan serta memiliki pemahaman terhadap kode etik jurnalistik.
Tantan sendiri sebelumnya aktif menyuarakan pentingnya peningkatan kualitas wartawan. Dalam berbagai kesempatan, ia menempatkan kompetensi dan profesionalisme sebagai bagian penting dalam menghadapi perubahan ekosistem media.
PWI Jawa Barat juga sebelumnya memiliki perhatian terhadap program peningkatan kompetensi wartawan, termasuk gagasan 1.000 Uji Kompetensi Wartawan yang pernah dikaitkan dengan program kerja organisasi.
Selain profesionalisme dan kompetensi, independensi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Pers memiliki fungsi sebagai penyampai informasi, sarana edukasi, kontrol sosial sekaligus ruang komunikasi publik. Karena itu, independensi wartawan harus tetap dijaga agar pemberitaan tidak kehilangan kepercayaan masyarakat.
Di tengah perkembangan media sosial, tantangan tersebut semakin besar. Informasi yang viral belum tentu benar, sementara tekanan kecepatan pemberitaan terkadang membuat proses verifikasi terabaikan.
Kondisi tersebut membutuhkan organisasi pers yang mampu mendorong anggotanya untuk tetap berpegang pada prinsip jurnalistik.
Tantan sebelumnya juga pernah menegaskan pentingnya media massa memproduksi informasi dengan tata cara jurnalistik yang benar di tengah persaingan dengan media sosial. (ANTARA News Jawa Barat)
Dengan demikian, kepemimpinan PWI Jawa Barat periode 2026–2031 diharapkan mampu memperkuat posisi wartawan sebagai profesi yang memiliki kompetensi sekaligus tanggung jawab kepada publik.
Terpilihnya Tantan Sulthon Bukhawan mendapat apresiasi dari Ketua Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Kabupaten Bandung, H. Agus Darmawan, S.ST. Par, atau yang akrab disapa Kang Danu.
Atas nama AMKI Kabupaten Bandung, Kang Danu menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar kepemimpinan Tantan dapat membawa PWI Jawa Barat semakin maju dan mampu memperkuat persatuan insan pers di Jawa Barat.
“Kami dari AMKI Kabupaten Bandung mengucapkan selamat kepada Bapak Tantan Sulthon Bukhawan atas amanah yang diberikan sebagai Ketua PWI Jawa Barat periode 2026–2031. Semoga amanah, sukses dalam menjalankan tugas dan mampu membawa PWI Jawa Barat semakin solid, profesional, kompeten serta tetap independen,” ujar Kang Danu.
Menurut Kang Danu, perubahan ekosistem media menuntut adanya kolaborasi dan komunikasi yang semakin baik antarlembaga media serta organisasi kewartawanan.
Media saat ini tidak lagi hanya berbicara mengenai media cetak, radio atau televisi. Perkembangan teknologi telah melahirkan berbagai platform digital yang membuat informasi dapat diproduksi dan disebarkan dalam waktu singkat.
Karena itu, menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
“Era konvergensi media membutuhkan insan pers yang mampu beradaptasi dengan teknologi, tetapi tetap memiliki integritas dan memahami etika jurnalistik. Jangan sampai kecepatan mengalahkan akurasi. Jangan pula popularitas mengalahkan independensi,” kata Kang Danu.
Kang Danu juga berharap kepemimpinan baru PWI Jawa Barat dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai organisasi media, perusahaan pers, komunitas jurnalistik dan stakeholder lainnya.
Menurutnya, keberadaan berbagai platform media seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauhkan diri. Sebaliknya, perkembangan tersebut dapat menjadi ruang untuk membangun ekosistem pers yang sehat.
“Kami berharap ke depan terbangun komunikasi dan kolaborasi yang semakin baik antara PWI dengan berbagai organisasi dan perusahaan media. Tujuannya tentu bukan untuk menghilangkan independensi masing-masing, tetapi bersama-sama membangun ekosistem pers yang sehat, profesional dan bertanggung jawab,” tuturnya.
Ia menambahkan, pers yang kuat tidak semata-mata diukur dari banyaknya media atau jumlah wartawan, tetapi juga dari kualitas informasi yang dihasilkan dan tingkat kepercayaan masyarakat.
“Kepercayaan publik merupakan aset utama media. Untuk menjaganya, wartawan harus bekerja berdasarkan fakta, melakukan verifikasi dan tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik,” ujar Kang Danu.
Tantan Sulthon Bukhawan kini menghadapi tantangan besar dalam memimpin PWI Jawa Barat selama periode 2026–2031.
Transformasi digital, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, perkembangan kecerdasan buatan, maraknya disinformasi serta persaingan industri media menjadi sejumlah tantangan yang membutuhkan respons organisasi secara adaptif.
Di sisi lain, kesejahteraan dan perlindungan profesi wartawan juga menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian.
Pengalaman Tantan dalam struktur PWI Jawa Barat diharapkan dapat menjadi modal untuk melakukan konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan program yang mampu menjawab kebutuhan wartawan di berbagai daerah.
PWI Jawa Barat juga diharapkan dapat menjadi ruang pembinaan bagi wartawan agar semakin memahami standar profesional, etika jurnalistik dan perkembangan teknologi media.
Kang Danu kembali menegaskan bahwa AMKI Kabupaten Bandung memberikan apresiasi atas proses demokratis yang telah menghasilkan kepemimpinan baru PWI Jawa Barat.
Ia berharap Tantan dapat menjalankan amanah tersebut dengan mengedepankan kepentingan organisasi, profesionalisme wartawan serta kepentingan masyarakat luas.
“Sekali lagi kami mengucapkan selamat kepada Kang Tantan Sulthon Bukhawan. Semoga kepemimpinan lima tahun ke depan membawa PWI Jawa Barat semakin maju, solid dan disegani. Semoga pula dapat melahirkan semakin banyak wartawan yang kompeten, profesional dan memiliki integritas,” pungkasnya.
Terpilihnya Tantan Sulthon Bukhawan menjadi babak baru bagi PWI Jawa Barat. Tantangan dunia pers ke depan memang semakin kompleks, namun dengan soliditas organisasi, peningkatan kompetensi, penguatan profesionalisme serta komitmen menjaga independensi, PWI Jawa Barat diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi perkembangan pers dan kehidupan demokrasi di Jawa Barat.
Bagi masyarakat, harapan akhirnya sederhana: mendapatkan informasi yang benar, berimbang, faktual dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, pers yang profesional bukan hanya menjadi kebutuhan organisasi kewartawanan, tetapi juga menjadi kebutuhan publik.
