DARI SENTRA KONVEKSI KE LAYAR PONSEL: E-COMMERCE MENDIGITALKAN FESYEN INDONESIA

0
WhatsApp Image 2026-10-10 at 19.39.21

Bandung, Media Nusantara – Industri fesyen Indonesia sedang menemukan jalan baru lewat layar ponsel. E-commerce kini bukan sekadar etalase digital, tetapi cara baru bagi penjahit, konveksi, dan pabrik tekstil menjangkau pembeli secara langsung.

Dua tokoh industri asal Jawa Barat menyuarakan perubahan ini Nandi Herdiaman, Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), dan Ian Syarif, Ketua API Jawa Barat yang kini menjabat Wakil Ketua Umum API Pusat.

TEKANAN & FAKTA LAPANGAN

Kedua tokoh ini paham betul tekanan yang dihadapi pelaku usaha. Nandi menyebut sejak 2022 banyak anggota IPKB terpaksa menghentikan usaha karena kalah bersaing dengan produk impor murah, baik di pasar online maupun offline. Tutur Nandi Herdiaman.

Fakta di lapangan hari ini:

Order masih turun naik, tidak stabil. Hari ini dapat 50 pcs, besok sepi. Cashflow berantakan.

IKM masih sulit kerjasama dengan perbankan. Bank minta agunan dan laporan rapi, padahal IKM di gang tahunya buku tulis. Data BPS: 96,5% UMKM belum punya laporan keuangan.

Banyak IKM pasca Covid dan akibat gempuran barang murah ilegal kondisi keuangan gulung tikar. Kalah saing, stok numpuk, akhirnya dengan perbankan bermasalah, BI Checking jelek.

Disaat sekarang mau bangkit, kepercayaan dari perbankan atau investor tidak ada. Butuh modal kecil Rp 10-20 juta untuk muter saja pintu tertutup.

Berharap pemerintah turun tangan melihat kondisi IKM di lapangan.

ANOMALI SDM

Pengangguran menurut data banyak, tapi IKM saat ini susah cari pekerja spesialis karena sudah puluhan tahun program pemerintah hanya ada kurikulum untuk pabrik besar garmen. Karakter IKM jauh berbeda dengan pabrik besar karena sistem bukan pecah proses.

Pabrik besar: 1 orang 1 mesin, jahit kerah saja 1.000 pcs. IKM: 1 orang 1 baju jadi 3 hari, 20-30 model ganti setahun.

Ini jadi PR bersama: bagaimana mau tumbuh berkembang IKM naik kelas untuk menyediakan SDM jahit saja IKM butuh waktu dan biaya banyak melatih dari nol.

IKM GO DIGITAL – IPKB DORONG ANGGOTANYA GO DIGITAL

Meski begitu, kami menegaskan tidak anti impor dan meminta pemerintah memperhatikan produk lokal agar keduanya bisa berjalan beriringan.

Walaupun terlambat IKM nasional Go Digital, IPKB terus mendorong pelaku usaha kecil. IPKB sudah lebih dulu bergerak: organisasi ini membekali anggotanya berjualan online dan menggandeng marketplace agar pelaku konveksi tetap bertahan di era digital.

Sementara itu, Ian Syarif melihat kunci menghadapi peredaran produk ilegal ada pada disrupsi rantai pasok. Dengan dukungan TikTok Indonesia, pelaku fesyen dalam negeri kini dapat menembus pasar langsung ke tangan pembeli, tanpa melewati rantai perantara dan pedagang yang panjang. Hasilnya adalah produk jadi yang kualitasnya lebih baik sekaligus harganya lebih terjangkau bagi konsumen.

Di tengah situasi itu, kami mengapresiasi TikTok Indonesia atas kolaborasi keanggotaan secara masif dan program TikTok Academy yang mengajarkan pelaku usaha berjualan secara digital. Pelatihan ini tidak hanya mendigitalkan industri fesyen. Ia juga memberi pelaku usaha dalam negeri senjata untuk menghadapi gempuran produk ilegal dan produk murah yang kian merajalela.

IKM GO DIGITAL adalah jawaban. Dulu rantai dagang panjang: Penjahit di Soreang – tengkulak – grosir Tanah Abang – toko – baru ke pembeli. Sekarang lewat HP, penjahit di Soreang bisa live streaming langsung ke pembeli di Papua. Tanpa perantara. Margin kembali ke penjahit.

KUNCINYA: LIVE STREAMING & PRE-ORDER

Kuncinya ada pada dua strategi:

1. Siaran Langsung (Live Streaming): Lewat live streaming, pengusaha bisa menunjukkan bahan, jahitan, dan kualitas produk secara transparan, sehingga pembeli bisa membandingkan langsung barang lokal yang bermutu dengan barang murah yang tak jelas asalnya.

2. Sistem Pre-Order: Membuat produksi mengikuti pesanan nyata. Stok tidak menumpuk, modal kerja lebih terjaga, dan pelaku IKM tidak perlu terjebak perang harga yang tidak sehat.

Jika dijalankan serentak, kami memperkirakan langkah IKM Go Digital ini dapat melahirkan wirausaha baru dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Jawa Barat, mulai dari penjahit, pengawas mutu, tim pengemasan, hingga host live dan kreator konten.

Data mendukung: BPS 2024 mencatat 4,4 Juta usaha e-commerce dengan transaksi Rp 1.288 Triliun. BI mencatat transaksi e-commerce 2024 Rp 487 Triliun. Pengguna internet 212 Juta. Ini pasar besar yang harus diisi produk lokal.

Digitalisasi memang bukan pengganti perlindungan pasar domestik. Namun bersama dukungan pemerintah yang menjaga persaingan tetap adil, e-commerce bisa membuat label “Buatan Indonesia” kembali menjadi pilihan utama bangsanya sendiri.

Dari Sentra Konveksi ke Layar Ponsel, IKM Go Digital, IKM Jawa Barat Bangkit Lagi.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *