Viral Aksi WNA di Gili Trawangan Ngamuk Bawa Parang Gegara ‘Terganggu’ Suara Tadarus — Protes dan Kericuhan Picu Reaksi Warga dan Tokoh Umat
Media Nusantara, Gili Trawangan – Sebuah video yang memperlihatkan seorang Warga Negara Asing (WNA) mengamuk dan mengancam warga dengan parang di Gili Trawangan kembali viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Aksi tersebut diduga dipicu karena perempuan itu merasa terganggu suara tadarus Al-Qur’an yang diperdengarkan lewat pengeras suara di sebuah musala pada malam pertama bulan suci Ramadan, Rabu (18/2/2026).
Perempuan WNA yang diidentifikasi sebagai Miranda Lee, warga negara Selandia Baru, terlihat dalam video berteriak di depan musala saat warga setempat tengah melaksanakan tadarusan. Menurut keterangan Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni, wanita tersebut merasa suara pengeras suara tadarus mengganggu waktu istirahatnya, sehingga ia mencoba menghentikan aktivitas ibadah warga.
Aksi memanas ketika Miranda masuk ke dalam musala dan merusak mikrofon yang digunakan untuk tadarusan, memicu kericuhan antara warga dan dirinya. Seorang warga dilaporkan mengalami luka cakaran dalam peristiwa tersebut.
Kericuhan berlanjut setelah perempuan itu kembali ke vila tempatnya menginap dan diduga mengambil ponsel milik seorang warga. Warga kemudian mendatangi vila untuk mengambil kembali perangkat tersebut. Peristiwa ini memicu ketegangan lanjutan saat Miranda keluar sambil mengacungkan dua bilah parang dan sempat mengejar warga sekitar, sehingga suasana di kawasan wisata tersebut sempat mencekam.
Kasus ini menjadi semakin kompleks setelah pihak berwenang menemukan bahwa status izin tinggal Miranda telah melebihi masa berlaku (overstay), yang kemudian menimbulkan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas Imigrasi bersama polisi.
Insiden ini memicu reaksi dari berbagai pihak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama Republik Indonesia menanggapi peristiwa tersebut dengan mengimbau semua pihak untuk menahan diri serta saling menghormati tradisi dan ibadah selama Ramadan, sekaligus menekankan pentingnya pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala agar tidak menimbulkan gangguan.
Kisah itu pun menjadi viral luas, dengan puluhan ribu tayangan video di berbagai platform media sosial memperlihatkan kericuhan yang terjadi, sekaligus memicu perdebatan tentang toleransi, sensitivitas suara ibadah, dan batasan perilaku warga asing di lingkungan masyarakat lokal.
