Konflik Iran vs Israel-AS Picu Krisis Global, Harga Minyak Naik, Pangan Terancam
Media Nusantara, Teheran – Konflik bersenjata antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 mulai menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian global. Krisis ini tidak hanya memicu lonjakan harga energi, tetapi juga mengancam stabilitas pasokan pangan dunia.
Laporan dari Reuters, Associated Press, Bloomberg, serta Al Jazeera menyebutkan bahwa harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari 40% pada awal eskalasi konflik. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak global.
Meski demikian, memasuki pertengahan Maret 2026, harga minyak mulai menunjukkan sedikit penurunan seiring upaya stabilisasi pasokan dan intervensi dari sejumlah negara produsen energi. Namun, para analis memperingatkan bahwa volatilitas masih tinggi dan harga dapat kembali melonjak jika konflik semakin meluas.
Menurut data dari International Energy Agency, sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ketegangan di wilayah ini meningkatkan risiko gangguan distribusi yang dapat berdampak langsung pada harga bahan bakar global, termasuk di negara-negara berkembang.
Tidak hanya sektor energi, dampak konflik juga mulai merambat ke sektor pangan. Food and Agriculture Organization memperingatkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan secara global. Hal ini dapat memicu inflasi pangan, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor.
Selain itu, laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa jalur logistik internasional terganggu akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah. Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan mengalihkan rute mereka untuk menghindari wilayah konflik, yang berujung pada peningkatan biaya pengiriman dan keterlambatan distribusi barang, termasuk bahan pangan.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya terus berupaya menjaga stabilitas jalur perdagangan global dengan meningkatkan kehadiran militer di kawasan Teluk. Sementara itu, Iran menegaskan akan terus merespons setiap bentuk agresi, termasuk dengan langkah-langkah strategis yang dapat memengaruhi distribusi energi dunia.
Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Bursa saham di berbagai negara dilaporkan mengalami tekanan, sementara investor cenderung beralih ke aset aman seperti emas.
Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menyerukan deeskalasi dan dialog diplomatik untuk mencegah krisis global yang lebih dalam. Sejumlah negara juga mendorong upaya mediasi guna meredakan konflik yang semakin meluas.
Hingga saat ini, situasi masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Para pengamat menilai bahwa jika konflik terus berlanjut, dampaknya terhadap energi dan pangan dapat berkembang menjadi krisis global yang lebih serius, terutama bagi negara-negara dengan ketahanan ekonomi yang lemah.
