Di Balik Cilor Rp1.000 Ada Perjuangan Berat: Terusir dari Kontrakan hingga Tidur di Jalan
Media Nusantara | Jakarta — Di balik murahnya jajanan cilor yang hanya dibanderol Rp1.000 per tusuk, tersimpan kisah perjuangan hidup yang begitu berat. Seorang pedagang cilor di Jakarta menjadi perhatian publik setelah kisah kehidupannya viral di media sosial.
Bukan sekadar mencari keuntungan, setiap tusuk cilor yang dijajakan menjadi bagian dari perjuangan seorang pria untuk mempertahankan hidup di tengah keterbatasan. Ia tetap memilih berjualan meski sudah tidak memiliki tempat tinggal dan harus tidur di luar ruangan.
Kisah tersebut menjadi viral setelah dibagikan melalui akun TikTok @mas.saenn pada 28 Agustus 2026. Dalam video tersebut, pemilik akun menghampiri sang pedagang yang sedang berjualan cilor di pinggir jalan.
Tetap Berjualan Meski Tak Punya Tempat Tinggal
Dalam perbincangan tersebut, diketahui bahwa sang pedagang menjual cilor dengan harga hanya Rp1.000 per tusuk. Harga yang sangat terjangkau itu menjadi salah satu cara dirinya untuk tetap mendapatkan pembeli dan memperoleh penghasilan setiap hari.
Namun, di balik gerobak sederhananya terdapat persoalan hidup yang jauh lebih berat. Sang pedagang mengaku telah diusir dari tempat kontrakannya karena tidak memiliki uang untuk membayar sewa.
Kondisi tersebut membuatnya tidak memiliki tempat tinggal tetap. Setelah selesai berjualan, ia harus mencari tempat untuk beristirahat di luar ruangan.
Bahkan, ketika hujan turun, persoalan yang dihadapinya menjadi semakin berat.
“Kalau gak hujan rasanya bahagia banget, kalau hujan bingung mau tidur di mana,” demikian pengakuan sang pedagang dalam video yang kemudian mendapat perhatian luas di media sosial.
Bahan Dagangan Disiapkan dengan Menumpang
Perjuangan pedagang tersebut tidak berhenti pada persoalan tempat tinggal. Untuk menyiapkan dagangannya setiap hari, ia juga harus mencari tempat yang memungkinkan untuk mengolah bahan cilor.
Dalam kisah yang dibagikan tersebut, diketahui bahwa bahan-bahan untuk membuat cilor disiapkan dengan cara menumpang di sebuah warung.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perjuangan pelaku usaha kecil di lapangan terkadang tidak hanya berkaitan dengan modal usaha, tetapi juga persoalan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan fasilitas untuk menyiapkan dagangan.
Meski demikian, sang pedagang tetap memilih untuk bekerja dan berjualan daripada menyerah pada keadaan.
Merantau Tanpa Keluarga
Kisah tersebut menjadi semakin menyentuh ketika sang pedagang ditanya mengenai keluarganya.
Ia disebut menjalani kehidupan di Jakarta tanpa didampingi keluarga. Anak-anaknya tinggal bersama ibu mereka, sementara dirinya harus menghadapi kehidupan sebagai perantau seorang diri.
Setiap hari, ia mengandalkan hasil penjualan cilor untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pedagang tersebut diketahui biasa berjualan di sekitar depan SD Pal Meriam atau kawasan depan Mal Ciplaz Jatinegara, Jakarta Timur. Aktivitas berjualan biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Kisahnya Menggerakkan Hati Netizen
Video perjuangan pedagang cilor tersebut kemudian mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat. Sejumlah netizen tidak hanya menyampaikan doa, tetapi juga mengajak masyarakat yang berada di sekitar lokasi untuk membeli dagangan sang pedagang.
Ajakan tersebut menjadi bentuk dukungan sederhana yang dapat diberikan masyarakat kepada pelaku usaha kecil.
Bagi pedagang seperti dirinya, membeli dagangan bukan sekadar transaksi jual beli. Satu tusuk cilor yang dibeli berarti ikut membantu memberikan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Netizen pun ramai menyerukan agar masyarakat yang berada di sekitar lokasi ikut melariskan dagangan sang bapak.
UMKM Kecil, Perjuangan yang Tidak Kecil
Kisah pedagang cilor Rp1.000 ini menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas perdagangan kaki lima terdapat manusia dengan cerita, kebutuhan dan perjuangannya masing-masing.
Usaha mikro sering kali terlihat sederhana dari luar. Gerobak kecil, makanan dengan harga murah dan transaksi harian mungkin terlihat biasa. Namun, bagi sebagian pedagang, usaha tersebut merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk mempertahankan kehidupan.
Cilor sendiri merupakan salah satu jajanan berbahan dasar aci atau tepung tapioka yang dipadukan dengan telur. Makanan tersebut dikenal luas sebagai jajanan kaki lima dengan harga relatif terjangkau.
Karena itu, kisah pedagang cilor tersebut tidak semestinya hanya berhenti sebagai konten viral. Perhatian publik diharapkan dapat berubah menjadi dukungan nyata, terutama dari masyarakat yang berada di sekitar lokasi ia berjualan.
Bukan Belas Kasihan, Tetapi Dukungan untuk Tetap Berdiri
ASBI Media Center memandang kisah ini sebagai gambaran nyata tentang bagaimana masyarakat kecil terus berusaha bertahan di tengah tekanan kehidupan.
Pedagang tersebut tidak meminta kehidupan mewah. Ia hanya berusaha mendapatkan penghasilan melalui pekerjaan yang halal dengan menjual makanan sederhana kepada masyarakat.
Di tengah kondisi yang serba terbatas, semangatnya untuk tetap berjualan patut menjadi perhatian. Bukan semata-mata karena kisahnya menyentuh, tetapi karena ada nilai tentang ketekunan, kerja keras dan perjuangan untuk tidak menyerah terhadap keadaan.
Dukungan terhadap pedagang kecil dapat dilakukan dengan cara sederhana: membeli dagangannya, memperkenalkan usahanya kepada orang lain, atau membantu menyebarkan informasi secara positif.
Sebab, terkadang bagi seorang pelaku usaha kecil, satu pembeli tambahan bisa menjadi harapan untuk melewati satu hari lagi.
Kisah penjual cilor ini menjadi pengingat bahwa di balik harga Rp1.000 terdapat perjuangan yang nilainya jauh lebih besar.
ASBI Media Center — Mengangkat Fakta, Mengawal Cerita, Menyuarakan Masyarakat.
Sumber : detikFood, artikel “Perjuangan Penjual Cilor Rp1.000, Diusir Kontrakan hingga Tidur di Jalan”, 30 Agustus 2026.
