Telkom University Kembangkan DeepRuminansia-v1, Peternakan Kini Lebih Digital

0
images - 2026-10-20T213437.425

SURABAYA, MEDIA NUSANTARA — Pemanfaatan teknologi digital di sektor peternakan terus berkembang. Telkom University Surabaya mengembangkan DeepRuminansia-v1, sebuah platform pengelolaan data peternakan berbasis digital yang dirancang untuk membantu meningkatkan efisiensi operasional, transparansi informasi, dan tata kelola usaha peternakan sapi, kambing, serta domba potong.

Pengembangan inovasi tersebut mendapat dukungan pendanaan hibah riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar dapat diterapkan secara nyata untuk menjawab kebutuhan industri dan masyarakat.

Berdasarkan pemberitaan JPNN.com Jatim pada 19 Oktober 2026, riset tersebut dijalankan oleh Program Studi Sistem Informasi Telkom University Surabaya melalui skema Hilirisasi Riset Prioritas – Dorongan Teknologi. Pengembangannya mengusung tema manajemen data peternakan berbasis Software as a Service (SaaS) untuk mendukung ketahanan pangan di sektor daging ruminansia.

Digitalisasi untuk Menjawab Tantangan Peternakan

Selama ini, sebagian pelaku usaha peternakan masih menghadapi tantangan dalam pencatatan data ternak, pemantauan pertumbuhan, pengelolaan pakan, serta pengawasan kondisi kesehatan hewan. Apabila data operasional tersebar atau pencatatan belum terintegrasi, proses evaluasi dan pengambilan keputusan bisnis dapat menjadi kurang efektif.

DeepRuminansia-v1 dikembangkan untuk membantu mengatasi tantangan tersebut melalui sistem pengelolaan data yang lebih terstruktur. Informasi peternakan dapat disajikan melalui dasbor digital sehingga pengelola mempunyai gambaran lebih jelas mengenai perkembangan usaha yang dijalankan.

Informasi yang dirancang untuk dipantau meliputi pertumbuhan bobot ternak, riwayat pemberian pakan, kondisi kesehatan, serta proyeksi bagi hasil. Ketersediaan data tersebut diharapkan membantu peternak melakukan evaluasi operasional sekaligus mempermudah penyampaian laporan kepada pemilik modal atau mitra usaha.

Meski demikian, teknologi digital bukan pengganti pemeriksaan langsung terhadap hewan. Pengawasan kondisi ternak di lapangan, penerapan standar kesehatan hewan, dan pendampingan tenaga yang kompeten tetap diperlukan agar pengelolaan peternakan berjalan secara optimal.

Gandeng TernakPark Wonosalam sebagai Mitra Industri

Dalam pengembangannya, Telkom University Surabaya menggandeng TernakPark Wonosalam di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sebagai mitra industri sekaligus lokasi pengujian awal atau proof of concept.

Kemitraan ini memberikan kesempatan bagi tim peneliti untuk menyesuaikan pengembangan sistem dengan kebutuhan operasional peternakan. Keterlibatan pengelola kandang dan akses terhadap data lapangan menjadi bagian penting dalam menguji relevansi teknologi terhadap aktivitas usaha sehari-hari.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku industri. Riset yang dikembangkan di lingkungan akademik diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diuji dan disempurnakan berdasarkan kebutuhan pengguna.

Tim peneliti dipimpin Mochamad Nizar Palefi Ma’ady, bersama Rosyid Abdillah dan Adzanil Rachmadhi Putra. Proyek ini turut melibatkan mahasiswa serta alumni untuk mendukung proses pengembangan teknologi.

Model SaaS untuk Pengelolaan Data yang Lebih Fleksibel

DeepRuminansia-v1 menggunakan pendekatan Software as a Service (SaaS), yaitu model penyediaan perangkat lunak yang dapat diakses melalui layanan digital. Sistem ini dirancang dengan pendekatan multi-tenant, yang memungkinkan layanan digunakan oleh sejumlah pengguna atau organisasi dengan pengelolaan data masing-masing secara terstruktur.

Model tersebut berpotensi membantu pelaku peternakan mengelola informasi usaha tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pencatatan manual yang terpisah-pisah. Data yang tersusun secara sistematis juga dapat mendukung proses evaluasi, pelaporan, dan perencanaan usaha.

Namun, keberhasilan penerapannya akan sangat bergantung pada kualitas data yang dimasukkan, kemudahan penggunaan sistem, keamanan informasi, serta kesiapan sumber daya manusia yang mengoperasikannya.

Dengan demikian, digitalisasi perlu dibarengi dengan pelatihan bagi peternak dan pengelola usaha agar teknologi benar-benar memberikan manfaat dalam kegiatan produksi maupun administrasi.

Peluang Mendorong Transparansi Investasi Peternakan

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan platform ini adalah transparansi pengelolaan usaha. Dalam model kemitraan peternakan, keterbukaan informasi mengenai jumlah ternak, biaya operasional, perkembangan bobot, dan kondisi pemeliharaan dapat membantu membangun kepercayaan antara pengelola dan pemilik modal.

Dasbor digital yang menyajikan data secara terstruktur berpotensi mempermudah pemantauan perkembangan usaha dan penyusunan laporan. Informasi proyeksi bagi hasil juga dapat membantu pihak terkait memahami perencanaan keuangan usaha peternakan.

Kendati demikian, proyeksi keuntungan tidak dapat dipandang sebagai jaminan hasil investasi. Risiko usaha tetap ada, termasuk perubahan harga pakan, penyakit hewan, fluktuasi harga jual, tingkat kematian ternak, dan perubahan permintaan pasar.

Karena itu, transparansi data perlu disertai perhitungan usaha yang realistis, pengelolaan risiko, serta kesepakatan kemitraan yang jelas agar hubungan antara peternak dan pemilik modal berjalan secara profesional.

Relevan bagi Pengembangan Peternakan di Jawa Barat

Inovasi digital semacam ini juga relevan untuk dikaji dalam pengembangan peternakan di Jawa Barat, termasuk usaha domba Garut yang menjadi salah satu bagian dari potensi ekonomi daerah.

Kabupaten Garut dan sejumlah wilayah lain di Jawa Barat memiliki aktivitas peternakan yang melibatkan peternak rakyat, kelompok usaha, hingga pelaku agribisnis. Penguatan tata kelola berbasis data berpotensi membantu meningkatkan efisiensi pencatatan, mempermudah evaluasi produktivitas, dan memperkuat akses informasi bagi pelaku usaha.

Meski DeepRuminansia-v1 dikembangkan di Surabaya dan diuji bersama mitra di Jombang, penerapan teknologi serupa di wilayah lain tetap memerlukan penyesuaian. Karakteristik ternak, pola pemeliharaan, kemampuan digital peternak, infrastruktur internet, serta kebutuhan pasar harus menjadi pertimbangan dalam proses adaptasi.

Bagi Jawa Barat, peluang tersebut dapat menjadi bahan kajian bagi perguruan tinggi, pemerintah daerah, kelompok peternak, dan pelaku usaha untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem peternakan yang produktif dan berkelanjutan.

Hilirisasi Riset sebagai Langkah Menuju Peternakan Modern

Pengembangan DeepRuminansia-v1 menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat berperan dalam menjembatani riset teknologi dengan kebutuhan dunia usaha. Dukungan pendanaan penelitian dan keterlibatan mitra industri menjadi faktor penting agar inovasi dapat diuji berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Ke depan, keberhasilan platform semacam ini perlu dilihat dari manfaat yang benar-benar dirasakan pengguna, seperti peningkatan ketertiban pencatatan, efisiensi operasional, kualitas pelaporan, serta kemudahan dalam mengambil keputusan.

Digitalisasi bukan sekadar memindahkan pencatatan ke layar komputer atau telepon pintar. Lebih dari itu, transformasi digital perlu membangun kebiasaan pengelolaan usaha yang transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pengembangan dan evaluasi yang berkelanjutan, teknologi seperti DeepRuminansia-v1 berpotensi menjadi salah satu instrumen pendukung modernisasi peternakan Indonesia sekaligus memperkuat tata kelola agribisnis yang lebih profesional.

Redaksi berita oleh MEDIA NUSANTARA

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *