Viral di TikTok, Insiden Pemukulan Remaja di Pekuncen Banyumas Berakhir Damai Lewat Mediasi Polisi
Media Nusantara, Banyumas. Jawa Timur— Sebuah video yang menampilkan aksi dugaan pemukulan seorang remaja di Lapangan Desa Pasiraman Kidul, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas menjadi viral di media sosial, khususnya platform TikTok dan Instagram, dalam dua hari terakhir. Tayangan itu lantas menyita perhatian publik dan mendapat respons cepat dari aparat penegak hukum setempat.
Video berdurasi sekitar 27 detik memperlihatkan sekelompok remaja tengah berkumpul di tepi lapangan pada siang hari di bulan Ramadan. Dalam rekaman itu terlihat dua remaja sedang makan nasi bungkus — yang kemudian disebut sebagai mokel atau makan saat berpuasa — di satu sudut lapangan. Tiba‑tiba salah satu remaja lain yang mempermasalahkan perilaku tersebut tampak melayangkan pukulan ke bagian belakang kepala korban, memicu perdebatan hingga aksi fisik yang sempat terekam tersebut kemudian tersebar luas di ruang digital.
Kronologi dan Penyebab
Menurut pengakuan beberapa pihak yang diperoleh media lokal, motif awal peristiwa itu diduga timbul karena salah satu remaja merasa tidak terima ketika melihat dua anak lainnya makan di area itu pada waktu puasa, sehingga dianggap “mengotori wilayah.” Insiden tersebut kemudian berkembang menjadi dorong‑dorongan dan pukulan yang akhirnya viral.
Kapolsek Pekuncen, AKP Slamet Husein, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan mengatakan bahwa kedua remaja yang terlihat dalam video sudah diidentifikasi. Polisi menemukan bahwa para pelaku dan korban merupakan pelajar yang masih muda dan tidak saling mengenal sebelum insiden berlangsung.
Respon Cepat Kepolisian
Menindaklanjuti beredarnya video viral, jajaran Polresta Banyumas bersama Polsek Pekuncen langsung turun tangan untuk menyelidiki kejadian tersebut. Tim kepolisian mendatangi lokasi, meminta keterangan saksi, dan mengidentifikasi kedua belah pihak yang terlibat.
Kapolresta Banyumas Kombes Pol. Petrus Silalahi menjelaskan bahwa setelah proses klarifikasi, pihaknya memfasilitasi pertemuan mediasi antar kedua keluarga dan perangkat desa setempat pada Sabtu sore (21/2). Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat untuk menyelesaikan perselisihan secara kekeluargaan tanpa melanjutkannya ke proses hukum.
“Hasil mediasi menunjukkan bahwa korban bersama pihak terduga pelaku telah mencapai kesepakatan damai. Korban juga menyatakan tidak akan melanjutkan peristiwa tersebut ke proses hukum,” kata Kombes Petrus.
Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam surat pernyataan bersama sebagai komitmen agar persoalan serupa tidak kembali muncul di masa depan.
Imbauan dan Refleksi Publik
Kasus ini memicu ragam reaksi dari pengguna media sosial. Banyak netizen mengecam tindakan kekerasan tersebut, meskipun dikatakan terjadi antara sesama remaja. Ada pula pengguna yang menyoroti pentingnya pengawasan orang tua serta edukasi soal etika berpuasa dan perilaku remaja di ruang publik.
Pihak kepolisian dalam keterangannya juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum dipastikan kebenarannya. Imbauan ini dianggap penting untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif, terutama di tengah bulan Ramadan.
Situasi Terkini
Hingga kini, kedua keluarga yang terlibat telah menyepakati penyelesaian damai dan kasus ini tidak dilanjutkan ke tahap penyidikan pidana. Polisi tetap memonitor situasi di wilayah tersebut untuk memastikan tidak ada kelanjutan konflik atau kejadian serupa terjadi kembali.
