Kisah Bocah Pemulung di Yogyakarta Rawat Ayah Sakit, Kini Dievakuasi ke Yayasan

0
Screenshot 2026-04-19 12.13.20

Media Nusantara, Yogyakarta – Kisah pilu seorang bocah perempuan di Yogyakarta mendadak viral dan menggugah hati publik. Di usia yang seharusnya diisi dengan bermain, bocah berinisial Azizah (6) justru harus merawat ayahnya yang sakit, bahkan ikut memulung demi bertahan hidup.

Cerita haru ini pertama kali mencuat dari berbagai media online dan media sosial, hingga menuai simpati luas dari masyarakat.

Berdasarkan laporan sejumlah media, Azizah harus merawat ayahnya, Hermanto (56), yang menderita sakit dengan benjolan besar di kepala sejak hampir dua tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat sang ayah kesulitan bekerja sebagai pemulung.

Dalam kondisi serba keterbatasan, Azizah mengambil alih peran rumah tangga. Ia mencuci, membersihkan rumah, hingga memijat ayahnya yang sakit. Bahkan, bocah ini juga ikut mencari botol plastik dan barang bekas untuk membantu ekonomi keluarga.

Ironisnya, semua itu dilakukan di tengah kondisi kesehatannya yang juga sempat menurun.

Tinggal di Kamar Kos Sempit Pinggir Sungai

Keluarga kecil ini diketahui tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3×3 meter di kawasan Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta hanya beberapa meter dari bibir Sungai Gajah Wong.

Sang ibu telah lama pergi meninggalkan keluarga, membuat Hermanto harus membesarkan kedua anaknya seorang diri di tengah kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Kondisi tempat tinggal yang rawan dan tidak layak ini semakin memperburuk situasi yang mereka hadapi sehari-hari.

Setelah kisah Azizah viral, berbagai pihak mulai turun tangan. Mulai dari pemerintah daerah, dinas sosial, hingga komunitas dan relawan berdatangan untuk memberikan bantuan dan perhatian.

Respons cepat ini menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat masih kuat ketika dihadapkan pada kisah kemanusiaan yang menyentuh.

Sebagai langkah penyelamatan dan perlindungan, Azizah bersama ayah dan adiknya akhirnya dievakuasi ke Yayasan Bumi Damai di Kotagede pada 18 April 2026.

Di tempat tersebut, mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, akses pendidikan bagi anak-anak, serta bantuan untuk pemulihan kondisi sang ayah.

Pengelola yayasan menyatakan komitmennya untuk merawat dan mendampingi keluarga tersebut, termasuk membantu mencarikan solusi pekerjaan bagi sang ayah ke depan.

Kisah Azizah bukan sekadar cerita viral ini adalah potret nyata ketimpangan sosial yang masih terjadi di tengah masyarakat.

Di balik kemajuan kota, masih ada anak-anak yang harus kehilangan masa kecilnya demi bertahan hidup.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa masih banyak anak Indonesia yang membutuhkan perhatian serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat.

Langkah cepat evakuasi ke yayasan menjadi harapan baru bagi Azizah dan keluarganya. Namun lebih dari itu, kisah ini harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan anak dan penanganan kemiskinan secara menyeluruh di Indonesia.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *