Banjir Bandung Selatan,Krisis Berulang, Puluhan Ribu Warga Terdampak

0
pcLcw0kQF6ndZ879J86O9dB7aa1aH1W8diClVqsxYaVQjpGrIc2Tkk4ldiUp5Bb3XbOVEeIHsVJqn0-zSFr4T5bv4YpbR_tqfICuCImgWoYC37FlIQfy54gLv3ApQIt6v8gTsl_DL8voqnFrqusJJ5wIbi2Yp5dJKH0NAwv7C6NqqvywxJXW95s2qdHz5EKY

Media Nusantara, Kabupaten Bandung — Banjir besar kembali merendam kawasan Bandung Selatan pada  19 April 2026. Wilayah langganan seperti Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang kembali menjadi titik terparah akibat luapan Sungai Citarum yang tidak mampu menampung debit air kiriman dari hulu.

Sejumlah laporan media menyebutkan banjir kali ini berdampak luas. Data gabungan dari pemerintah daerah dan pemberitaan seperti Detik Jabar, Radar Bandung, hingga Pikiran Rakyat menunjukkan bahwa banjir telah meluas ke lebih dari 10 kecamatan, dengan jumlah terdampak mencapai 50 ribu hingga 58 ribu jiwa. Ribuan rumah terendam, dengan ketinggian air bervariasi antara 30 cm hingga lebih dari 1,5 meter di beberapa titik

Genangan air yang tinggi membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Sejumlah ruas jalan utama tidak dapat dilalui kendaraan, termasuk akses penghubung antar kecamatan.

ImageWarga terpaksa menggunakan perahu karet untuk beraktivitas, sementara sebagian lainnya memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sekolah diliburkan dan aktivitas ekonomi di pasar tradisional berhenti sementara.

Laporan dari berbagai media lokal menyebutkan adanya korban jiwa akibat terseret arus banjir di wilayah Bandung Selatan. Selain itu, ratusan hingga ribuan warga terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam.

BPBD Kabupaten Bandung bersama TNI, Polri, dan relawan terus melakukan evakuasi serta distribusi bantuan logistik berupa makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Sejumlah pengamat dan pejabat daerah menilai banjir di Kabupaten Bandung bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan akibat akumulasi masalah tata ruang yang tidak kunjung selesai.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara tegas menyatakan bahwa persoalan banjir di Bandung Selatan adalah masalah struktural.

Ia menyoroti:

  • Alih fungsi lahan di kawasan resapan air
  • Pendangkalan dan penyempitan sungai
  • Lemahnya pengendalian pembangunan di daerah rawan banjir

“Selama tata ruang tidak dibenahi, banjir akan terus berulang setiap tahun,” tegasnya dalam berbagai laporan media.

Meski berbagai program seperti normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, dan pembangunan kolam retensi telah dilakukan, hasilnya dinilai belum signifikan dalam menekan risiko banjir.

Beberapa laporan media juga menyoroti lambatnya penanganan jangka panjang, termasuk proyek pengendalian banjir di kawasan Cekungan Bandung yang belum sepenuhnya tuntas.

Banjir 19 April 2026 kembali menegaskan bahwa Kabupaten Bandung masih berada dalam ancaman serius setiap musim hujan.

Tanpa langkah konkret dan terintegrasi mulai dari penataan tata ruang, rehabilitasi hulu, hingga penguatan infrastruktur pengendalian banjir peristiwa serupa dipastikan akan terus berulang.

Masyarakat kini tidak hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga solusi permanen agar tidak terus menjadi korban dari bencana yang sama setiap tahunnya.

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *