Kasus Influenza A Jadi Sorotan, 2.860 Pasien Datang ke IGD RSUD Bandung Kiwari dalam 21 Hari
BANDUNG, MEDIA NUSANTARA — Peningkatan kasus influenza di sejumlah wilayah Indonesia turut menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya kunjungan masyarakat ke sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Bandung Kiwari.
Pada Rabu, 23 September 2026, Pemerintah Kota Bandung menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi peningkatan kasus Influenza A. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bandung tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa rumah sakit tidak boleh menolak pasien yang membutuhkan pertolongan medis.
Pemerintah Kota Bandung juga mengambil langkah pemantauan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama. Sampel swab dari pasien dengan gejala tertentu dapat dikirimkan kepada Kementerian Kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan apakah pasien terinfeksi Influenza A.
IGD RSUD Bandung Kiwari Mengalami Lonjakan Pasien
Salah satu perhatian muncul di RSUD Bandung Kiwari. Berdasarkan data rumah sakit, selama periode 1 hingga 21 September 2026 tercatat 2.860 pasien datang ke IGD. Angka tersebut setara dengan rata-rata sekitar 136 pasien per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 61 persen pasien menjalani perawatan inap, sedangkan sekitar 31 persen lainnya dipulangkan karena tidak termasuk kategori yang membutuhkan perawatan inap.
Manajemen RSUD Bandung Kiwari juga menyebut sempat terdapat pasien yang masuk daftar tunggu untuk mendapatkan ruang rawat inap. Pada 12 September 2026, jumlah pasien yang belum dapat masuk ruang rawat inap tercatat mencapai 23 orang.
Namun demikian, pihak rumah sakit menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti seluruh pasien yang datang ke IGD merupakan pasien Influenza A.
Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari dr. Arief Budiman menjelaskan bahwa pasien yang datang memiliki beragam keluhan dan diagnosis. Pada pasien anak antara lain ditemukan demam tinggi, dehidrasi, bronchopneumonia, infeksi virus dan sejumlah kondisi lainnya.
Sementara pada pasien dewasa juga ditemukan berbagai keluhan kesehatan, termasuk pneumonia atau radang paru-paru.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengaitkan setiap gejala flu, demam, batuk maupun pilek dengan Influenza A tanpa pemeriksaan medis.
9 Kasus Influenza A Terdeteksi di Jawa Barat
Di tingkat Jawa Barat, Dinas Kesehatan melaporkan bahwa hingga pekan ke-36 tahun 2026 telah ditemukan 10 kasus influenza yang terkonfirmasi, terdiri atas 9 kasus Influenza A dan 1 kasus Influenza B.
Kasus Influenza A tersebut dilaporkan mulai meningkat sejak Agustus 2026. Kasus ditemukan pada beberapa wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat, dengan kelompok usia yang antara lain mencakup balita dan orang dewasa.
Dinkes Jawa Barat juga masih melakukan pemantauan terhadap puluhan kasus yang memiliki gejala menyerupai influenza. Namun, tidak seluruh kasus yang menunjukkan gejala flu kemudian terkonfirmasi sebagai Influenza A maupun Influenza B.
Pemantauan dilakukan melalui sistem Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Sistem tersebut digunakan untuk memantau penyakit saluran pernapasan, termasuk kasus dengan kondisi berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Warga Diminta Tidak Panik
Dinas Kesehatan Kota Bandung mengimbau masyarakat agar tidak menghadapi peningkatan kasus influenza dengan kepanikan.
Kepala Dinkes Kota Bandung Sony Adam menyebut influenza memiliki tingkat penularan yang tinggi. Perubahan cuaca dari musim kemarau menuju musim hujan juga disebut menjadi salah satu kondisi yang perlu diperhatikan dalam konteks meningkatnya penyakit saluran pernapasan.
Masyarakat yang mengalami gejala ringan dianjurkan memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik. Sementara IGD diprioritaskan untuk kondisi yang memang membutuhkan penanganan darurat.
RSUD Bandung Kiwari menyebut kondisi yang termasuk kegawatdaruratan antara lain sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, pendarahan hebat, maupun kondisi akibat kecelakaan.
Dengan sistem triase, pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa akan mendapatkan prioritas penanganan.
Anak Bergejala Flu Dianjurkan Beristirahat di Rumah
Pemerintah Kota Bandung juga memberikan perhatian khusus terhadap anak-anak yang mengalami gejala influenza.
Orang tua diimbau tidak memaksakan anak pergi ke sekolah apabila sedang mengalami gejala flu. Anak dapat beristirahat di rumah dan mendapatkan pemeriksaan medis apabila kondisi membutuhkan penanganan.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengurangi potensi penularan penyakit di lingkungan sekolah.
Selain itu, masyarakat yang menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api maupun pesawat juga diimbau memperhatikan kebersihan dan mempertimbangkan penggunaan masker, terutama ketika sedang mengalami gejala penyakit saluran pernapasan.
Jangan Samakan Semua Flu dengan Influenza A
Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap Influenza A membuat informasi yang akurat menjadi penting.
Gejala seperti demam, batuk, pilek, lemas maupun nyeri tubuh memang dapat ditemukan pada influenza. Namun, kemunculan gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang terinfeksi Influenza A.
Dinkes Jawa Barat sendiri mencatat bahwa dari puluhan kasus yang dipantau, hanya sebagian yang kemudian terkonfirmasi melalui pemeriksaan khusus. Hal ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan medis untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Masyarakat juga dianjurkan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, mencuci tangan secara rutin, menjaga kebersihan lingkungan, mencukupi kebutuhan istirahat dan nutrisi, serta menggunakan masker ketika sedang sakit untuk mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Peningkatan perhatian terhadap Influenza A di Bandung menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan tanpa menimbulkan kepanikan.
Kepadatan IGD di sejumlah fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa masyarakat perlu memahami penggunaan layanan kesehatan sesuai kebutuhan. Pasien dengan kondisi darurat harus segera mendapatkan pertolongan, sementara keluhan ringan dapat terlebih dahulu dikonsultasikan melalui puskesmas atau klinik.
Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu mengandalkan informasi dari pemerintah dan tenaga kesehatan serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Dengan kewaspadaan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemeriksaan medis yang tepat, masyarakat diharapkan dapat menghadapi peningkatan kasus penyakit saluran pernapasan secara lebih tenang dan terukur.
Redaksi berita oleh ASBI Media Center
