Sasak Geulis: Indah Namanya, Rapuh Nasibnya
Media Nusantara, Kabupaten Bandung – Nama “Sasak Geulis” yang dalam bahasa Sunda berarti jembatan yang indah, kini terasa seperti ironi yang hidup di tengah masyarakat Dayeuhkolot dan Baleendah. Kondisi jembatan yang retak dan belum juga dibangun permanen kembali viral di media sosial setelah berbagai media lokal menyoroti lambannya penanganan infrastruktur tersebut.
Sejumlah pemberitaan menyebutkan, kerusakan jembatan sudah berlangsung bertahun-tahun. Jembatan darurat (bailey) yang dibangun sejak 2022 awalnya diharapkan menjadi solusi sementara. Namun waktu terus berjalan, dan “sementara” terasa semakin panjang. Pembatasan beban kendaraan dan kondisi fisik jembatan darurat yang mulai aus membuat warga bertanya-tanya: sampai kapan?
Spanduk protes warga yang sempat viral menjadi sinyal bahwa kesabaran publik ada batasnya. Bagi masyarakat sekitar, jembatan ini bukan sekadar bangunan penghubung, melainkan nadi aktivitas ekonomi, akses sekolah, dan jalur kerja harian.
Berdasarkan laporan sejumlah media regional, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah merencanakan pembangunan jembatan permanen dan menganggarkannya pada 2026. Pemerintah Kabupaten Bandung pun disebut mendorong percepatan realisasi serta membuka opsi koordinasi lebih lanjut agar pembangunan tak kembali tertunda.
Namun di tengah pernyataan resmi dan rencana anggaran, suara kritis juga datang dari tokoh masyarakat setempat.
Salah satu tokoh warga Dayeuhkolot, yang enggan disebutkan namanya, menyampaikan sindiran halus namun tajam.
>“Kalau menunggu viral dulu baru diperbaiki, berarti kami harus rutin pasang spanduk setiap tahun. Mungkin itu cara paling efektif supaya pembangunan terasa nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan.
>“Kami hanya ingin jembatan yang aman. Bukan janji yang kokoh di atas kertas, tapi rapuh di lapangan.”
Sindiran tersebut menggambarkan kegelisahan publik terhadap pola penanganan infrastruktur yang kerap terasa reaktif, bukan preventif. Sasak Geulis pun kini menjadi lebih dari sekadar jembatan—ia menjelma simbol tentang bagaimana aspirasi warga kadang harus bersaing dengan prosedur dan prioritas birokrasi.
Masyarakat berharap, rencana pembangunan yang telah disampaikan benar-benar terealisasi sesuai waktu yang dijanjikan. Agar “geulis” tidak lagi sekadar nama, melainkan cerminan dari fungsi dan keberpihakan nyata terhadap keselamatan rakyat.
