Heboh Sekolah di NTT Dapat Smart Board, Mendikdasmen Beri Klarifikasi soal Listrik dan Ruang Kelas

0
suasana-belajar-siswa-sdn-mboeng-di-desa-kaju-wangi-kecamatan-elar-manggarai-timur-ntt-dok-guru-sdn-mboeng-selviana-lantik-1788835169623_169

Media Nusantara, NTT — Perbincangan mengenai pemerataan fasilitas pendidikan kembali menjadi perhatian publik setelah kondisi SDN Mboeng, Desa Kaju Wangi, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi viral di media sosial.

Sekolah tersebut ramai diperbincangkan setelah beredar video dan informasi yang memperlihatkan adanya perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital, sementara pada bagian sekolah yang terlihat dalam video disebut mengalami persoalan fasilitas, termasuk ketersediaan listrik.

Peristiwa tersebut kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai kesiapan infrastruktur sekolah sebelum perangkat teknologi pendidikan didistribusikan.

Sorotan semakin luas karena masyarakat melihat adanya kesenjangan antara program digitalisasi pendidikan dengan kondisi fasilitas fisik sekolah yang masih membutuhkan perhatian.

Namun, pemerintah memberikan klarifikasi terhadap informasi yang beredar.

Mendikdasmen: Informasi Viral Tidak Sepenuhnya Akurat

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI pada Senin, 21 September 2026.

Dalam rapat tersebut, anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triana menyinggung informasi mengenai SDN Mboeng yang viral karena disebut menerima smart board meskipun sekolah tersebut dikabarkan tidak memiliki listrik.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa informasi yang beredar melalui media sosial tidak menggambarkan kondisi sekolah secara keseluruhan.

Menurut penjelasan Menteri, SDN tersebut memiliki beberapa ruang kelas. Ruangan yang terlihat dalam video merupakan ruang yang mengalami kerusakan dan sedang tidak berfungsi, sedangkan ruang kelas lainnya masih digunakan untuk kegiatan pembelajaran.

Mu’ti juga menegaskan bahwa perangkat IFP di ruang kelas yang berfungsi dapat digunakan.

Dengan demikian, pemerintah membantah anggapan bahwa seluruh sekolah tersebut tidak dapat menggunakan perangkat digital akibat tidak adanya listrik.

Bukan Sekadar Smart TV, Perangkat yang Diberikan Adalah IFP

Salah satu hal yang juga menjadi perhatian dalam pemberitaan tersebut adalah penyebutan perangkat sebagai smart TV atau smart board.

Pemerintah menjelaskan bahwa perangkat tersebut merupakan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) yang digunakan sebagai bagian dari program digitalisasi pembelajaran.

IFP dirancang untuk mendukung kegiatan belajar mengajar secara lebih interaktif. Guru dapat memanfaatkannya sebagai media pembelajaran digital sehingga proses penyampaian materi tidak hanya mengandalkan papan tulis konvensional.

Kemendikdasmen sebelumnya juga menjelaskan bahwa pemanfaatan IFP telah didorong di berbagai daerah, termasuk wilayah 3T atau Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Di sejumlah daerah, perangkat digital tersebut juga dipadukan dengan dukungan akses internet dan pelatihan bagi tenaga pendidik.

Digitalisasi Pendidikan Tidak Cukup Hanya dengan Mengirim Perangkat

Viralnya SDN Mboeng sekaligus memperlihatkan tantangan yang lebih besar dalam proses digitalisasi pendidikan.

Pemberian perangkat teknologi kepada sekolah memang dapat membuka peluang bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih modern. Namun, perangkat tersebut membutuhkan ekosistem pendukung agar benar-benar dapat digunakan secara optimal.

Dalam penjelasannya di hadapan Komisi X DPR RI, Abdul Mu’ti menyebut program digitalisasi pendidikan memiliki beberapa komponen, mulai dari pemberian IFP, pelatihan guru, pemberian laptop hingga akses jaringan.

Akses jaringan tersebut mencakup dua kebutuhan penting, yaitu internet dan listrik.

Untuk wilayah yang belum memiliki akses internet, pemerintah menyebut telah menggunakan sejumlah solusi, termasuk dukungan konektivitas melalui Starlink di sejumlah daerah 3T.

Sementara untuk persoalan listrik, pemerintah menyiapkan dua skema, yaitu pemanfaatan panel surya dan pembangunan jaringan listrik baru melalui koordinasi dengan PLN.

Persoalan Infrastruktur Menjadi Bagian Penting Digitalisasi

Kasus SDN Mboeng memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan digital tidak hanya berkaitan dengan pengadaan perangkat.

Ketersediaan bangunan sekolah yang layak, listrik, internet, kemampuan guru menggunakan teknologi, serta pemeliharaan perangkat merupakan bagian yang saling berkaitan.

Tanpa dukungan tersebut, perangkat digital berpotensi tidak memberikan manfaat maksimal kepada peserta didik.

Karena itu, pembahasan mengenai SDN Mboeng berkembang dari sekadar persoalan sebuah perangkat digital menjadi pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana pemerintah memastikan digitalisasi pendidikan berjalan bersamaan dengan pemerataan infrastruktur dasar sekolah.

Hal tersebut menjadi semakin penting bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil dan memiliki kondisi geografis maupun infrastruktur yang berbeda dengan sekolah di wilayah perkotaan.

SDN Mboeng Masuk Perhatian Program Revitalisasi

Sebelum klarifikasi terbaru dari Mendikdasmen, kondisi SDN Mboeng juga telah mendapat perhatian karena kondisi fisik sekolah.

Pemberitaan sebelumnya menyebut SDN Mboeng menjadi salah satu sekolah yang diprioritaskan dalam program revitalisasi tahun 2026. Perhatian tersebut muncul setelah kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan menjadi sorotan publik.

Dengan adanya rencana revitalisasi tersebut, persoalan fasilitas fisik dan digital diharapkan dapat ditangani secara lebih terintegrasi.

Artinya, peningkatan kualitas sekolah tidak hanya berupa pengadaan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup pembenahan ruang belajar dan infrastruktur dasar yang dibutuhkan untuk menunjang proses pendidikan.

Viral di Media Sosial, Pemerintah Diminta Pastikan Bantuan Tepat Guna

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa informasi pendidikan yang beredar di media sosial perlu dilihat secara utuh.

Video pendek sering kali hanya memperlihatkan satu sudut atau satu bagian dari sebuah peristiwa. Dalam kasus SDN Mboeng, pemerintah menyatakan bahwa ruang yang terlihat dalam video merupakan ruang yang rusak dan tidak mewakili keseluruhan kondisi sekolah.

Di sisi lain, perhatian publik terhadap persoalan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian terhadap pemerataan pendidikan, khususnya di daerah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

Program digitalisasi pendidikan pada akhirnya tidak hanya dinilai dari berapa banyak perangkat yang telah dikirimkan ke sekolah, tetapi juga dari seberapa jauh perangkat tersebut benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pemerintah Hadapi Tantangan Pemerataan Pendidikan Digital

Program digitalisasi pendidikan merupakan bagian dari transformasi pembelajaran yang tengah didorong pemerintah.

Kemendikdasmen menyebut digitalisasi telah memberikan dampak positif di sejumlah sekolah 3T. Dalam salah satu contoh di NTT, SMPN Wederok di Kabupaten Malaka memanfaatkan IFP, akses internet dan platform digital dalam proses pembelajaran.

Namun, kondisi setiap sekolah tidak sama.

Karena itu, kasus SDN Mboeng menunjukkan pentingnya pendekatan yang mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.

Sekolah yang belum memiliki listrik membutuhkan penyelesaian masalah kelistrikan. Sekolah yang memiliki bangunan rusak membutuhkan revitalisasi. Guru membutuhkan pelatihan. Sementara perangkat digital membutuhkan jaringan dan pemeliharaan.

Dengan pendekatan tersebut, digitalisasi pendidikan diharapkan tidak berhenti pada tahap distribusi perangkat, tetapi benar-benar menjadi bagian dari proses peningkatan mutu pendidikan.

Viralnya SDN Mboeng NTT menjadi perhatian publik karena mempertemukan dua isu besar dalam dunia pendidikan, yakni percepatan digitalisasi dan pemerataan infrastruktur sekolah.

Pemerintah melalui Mendikdasmen Abdul Mu’ti telah memberikan klarifikasi bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sekolah. Menurut pemerintah, SDN Mboeng memiliki beberapa ruang kelas dan IFP di ruang yang berfungsi dapat digunakan. Pemerintah juga menyiapkan solusi untuk kebutuhan listrik melalui panel surya maupun pembangunan jaringan baru.

Bagi masyarakat, persoalan ini menjadi momentum untuk melihat digitalisasi pendidikan secara lebih luas. Teknologi memang dapat menjadi alat penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi manfaatnya akan semakin besar apabila dibarengi dengan sekolah yang layak, listrik yang tersedia, konektivitas internet, guru yang terlatih, serta dukungan pemeliharaan perangkat.

Pada akhirnya, tujuan utama digitalisasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan perangkat canggih di ruang kelas, melainkan memastikan setiap anak, termasuk mereka yang berada di wilayah 3T, memperoleh kesempatan belajar yang layak dan berkualitas.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *